Wednesday, August 12, 2009

Ketika Puisi Kehilangan Makna...

Assalamualaikum dan Salam Kasih Sayang...

Ketika sedang duduk-duduk merintih dan mengenang nasib diri. Telah ku tuliskan puisi ini untuk dia. Dia yang dulu, kini dan sampai bila-bila pun tetap aku sayangi. Nafas ini takkan berhenti untuk menyebut namanya. Sayangku tetap mekar kepadanya sampai bila-bila. Pintaku agar hati dan perasaan ini tidak dimainkan lagi. Hargailah kesetiaan yang telah kutunjukkan ini kepadanya. Aku yakin dia mengerti.



Ketika Puisi Kehilangan Makna

Ketika puisi telah kehilangan makna
Di hujung hari pada suatu senja yang kedinginan
Hanya terdengar suara angin yang bagai berlari ke hulu
Mencari muara tempat cinta berlabuh.
Suatu hari.
Saat langit kehabisan warna dan yang tinggal hanyalah warna hitam memekat
Menyisihkan purnama sendirian di hujung cakerawala merajuk sepi tanpa batas.
Tanpa ruang, atau waktu.
Dan kita akan memandang hitam di atas perasaan yang sempat tertinggal sebelum waktu
Sempat menyeret nurani ke satu tempat tanpa udara
Hampa.
Yang tinggal hanyalah sebuah kekosongan tanpa kata-kata yang tersekat di kerongkong
Kemana perginya erti itu ketika kita sudah jauh-jauh mencari?
Meniti tapak-tapak tanpa akhir yang hanya menghantarkan kita ke dua alur tanpa hujung di mana suatu saat
Bibir akan terpaut kembali
Dan kita bisa bersatu semula
Aku hamper habis akan kata-kata
Kerana yang merangkai puisi telah kehilangan makna
Ketika kau pun baragkali sudah makin menamatkan kisah-kisah cinta kita
Dan yang tersisa tinggal ketiadaan.
Menyisihkan rindu yang berpanjangan.
Tapi sampai bila? Kerinduan itu pasti akan lambat laun menghantui jiwa.

B, pulanglah... Jangan biarkan sayangmu ini sendirian begini. Singgahkan lelahmu dibahuku, pasti akan kau temui kebahagiaan abadi.

Ayang sayang B... Muahhh...